Kumpulam Puisi Islami, Bersama ribuan gemuruh cinta yang kau tebarkan dibalik rentetan tempias hujan.

Kumpulam Puisi Islami, Bersama ribuan gemuruh cinta yang kau tebarkan dibalik rentetan tempias hujan.
pinterest.com

ASEngkau Enggan Genggam Nafasku

Bersama ribuan gemuruh cinta yang kau tebarkan dibalik rentetan tempias hujan.

NamaMu menggaung di ceruk jiwa
memantulkan aroma puja, yang sempat terbenam di ruang duka

Daun-daun kehidupan yang Engkau tanam
teramat dekat dengan jurang kematian
hingga tak pernah ada pilihan
antara tarikan dan hembus nafas, sebuah bentang yang tertuliskan
semua kuasaMu

Bara yang aku genggam adalah apiMu
hingga jika kau tiup api, hilanglah baraku
nafas yang aku hembuskan adalah anginMu.

hingga jikau kau hentikan angin, lenyaplah nafsku

darah yang mengalir adalaha airMu
hingga jika kau tumpahkan air haibislah darahku

dan aku adalah milikMu
jika Kau hempaskan diriku
lenyaplah aku

Leyaplah, biarlah Engkau lenyapkan aku Tuhan

Asal terlumat dalam rangkupan rahmat rahim MU

Lumatlah biarlah Engkau lumat aku Tuhan
Asal terhempas diantaran pengampunanMu

Karna tanpa Rahman Rahim Mu
Tanpa pengampunanMu
Aku

Hanyalah sebutir debu yang tertampar luapan dosa
Hangus terpangang api

Sebab Aku Tak Sama

DHORIFAH NAJIB:

tahu, aku tak sama
Aku tahu, aku berbeda dengan kalian
Aku berbeda dengan apa yang kalian sebut paham

Aku berbeda dengan apa yang kalian sebut agama

Tahukah, bagaimana rasa takutku pada kalian?

Dengan senjatamu fisikku terluka
Dengan hujatanmu batinku menjadi pilu

Jika memang aku dinilai hina
Kenapa Tuhan menciptakanku?
Jika memang aku dinilai tak layak
Kenapa Tuhan membiarkan Ibu melahirkanku?
Aku sehina itu?

Kalian bilang “Ini bumi kami”
Lalu aku?

Di mana aku harus bertempat, di mana aku harus tinggal?

Apakah aku masih kalian anggap sebagai manusia?

Apa aku masih kalian anggap sebagai saudara?

Saudara yang butuh teman, saudara yang butuh toleran

Dan saudara yang butuh keberagaman

Inilah aku, sebab aku tak sama
Inilah aku, sebab aku berbeda
Inilah aku sebab aku tak sama.

Lentera Malam

Aku saat ini, seperti sembunyi di balik tilam

Aku sesak kalam yang terpendam begitu dalam

Terlalu dalam dan meram dalam diam

Aku karam dalam kenangan, harapan dan mimpi-mimpi malam

Semua ingin kuungkap agar hidup tak lagi tenggelam

Agar asa ini selalu pagi, bukan lagi senja yang temaram

Tapi engkau segera berjalan bersama purnama malam

Tak ada yang cepat atau lambat saat udara hening dan diam

yang ada hanya sepi, senyap dan padam

selamat jalan, wahai yang tak lelah membangunkan malam
selamat jalan, wahai lentera yang menyinari hati yang kelam

engkaulah salam
hanya darimu segala salam
hanya kepadamu akan kembali segala salam

maka hidupkan ia dalam salam
tempatkan ia dalam bahagia penuh salam

meski kami masih belum paham,
tegarkan hati kami, laksana pualam

Selamat jalan, wahai yang tak lelah membangunkan malam
selamat jalan, wahai lentera yang menyinari hati yang kelam

Kami di sini, tak akan lelah untuk berdoa dalam kalam, dalam diam

Suatu Hari, Ketika Engkau Pergi

Pagihari aku menyaksikan daundaun luruh
dicumbui gerimis tiada henti
matahari bangkit pelan dari busur waktu
jalan aspal itu seperti tertutup setapak kabut dan angin seperti juga ikut menahan perih dan ngilu.

langit bagai memandam airmata
bumi dipenuhi beribu-ribu gemerisik tetes air yang selaksa ikut berdzikir dan sembahyang sebelum terbang ke langit lagi

O saat jasad direbahkan ke dalam perut bumi siapa yang tak mengadu kepada-Mu?
ia begitu setia, menyusun bata kata dari Arsy-Mu menghimpun seribu enamratus tiga puluh empat halaman bahasa bisu dengan membasuh wudlu.

O adakah yang sudah bisa sebelum ini
menyusuri kesunyian dan nyinyir yang panjang?

Lima dasawarasa mudawam membasuh debu diantara saksi kertas yang senyap
lidahlidah yang mengendap udara yang pengap.

Diantara rumah dah mushallah
diantara doa dan kalimat jalalah
diantara papan peneduh dan carut marut arti kata.

O ia begitu hanyut bersama gelombang waktu siangmalam meratapi lembar demi lembur tak henti memegang pena di sisasisa suara parau
intrik politik dan omong kosong kekuasaan.

O siapa yang tahu dan mendengar?
kamis menjelang magrib itu, diantara dengung mulut.

Bertahmid, takbir dan istigfar
ada dua ekor burung di dekat kuburun
seperti lebih tahu dan mencicit sedih dari pada hati peziarah dan langit di atas sana masih luruh.

Tiada henti dicumbu hujan, ia seperti hendak berkisah bahwa hari itu duka tiada jeda aku bertanya, adakah yang bisa menakar pedihnya hari itu? 

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'uun

Bantul, 19 April 2013

Mbah

Mereka bilang kau adalah laut
maka akupun menaruh kapal di tepi rangjangku ketika ada badai akan aku bentangkan layar.
ketika arus menendang, akan aku kuatkan sampan ketika air pasang, akan aku kukuhkan jangkar ketika tersesat dan pulau menghilang.

Akan aku baca peta dan arah angin
kumasuki semenanjung demi semenanjung
meski hari telah remang karena engkau laut, kata orang.

Betapa teguh dan tegarnya engkau
karenanya aku ingin berdiri di deru deburmu seperti engkau meluruh sauh dan menaklukan musim sampai tak peduli begitu gelombang sampai tak ada desir, teluk dan ceruk karena semua itu adalah sahabat di medan juang di tengah deru ingin dan angin muara aku merasa lautmu begitu dalam.

Sehingga susah benar aku menyeberang
meski begitu izinkan aku berlabuh di punggungmu

Bantul, 18 April 2013

Mengingatmu Sekali Lagi

Sebenarnya habis sudah talqin
yasin, jejak fatihah dan air mata tertumpah.

Tapi entah kenapa aku ingin mengingatmu sekali lagi lewat ritus hujan dan lukisan langit yang menghadap ke arahku
lewat angin dengan perempuan cantik di pesantrenmu lewat gema allahuakbar dan subhanallah.

Yang bertalu tiada henti hingga langit tengah hari lewat sungai kecil dekat kuburan itu aku merasa seperti boca yang terjebak dalam tubuh renta seorang kakek
mataku terapung dalam sorot matamu
dan aku melihat tubuhku sendiri, entah kenapa bergetar seperti balon udara yang terbang diangkasa.

O, langit malam setelah hujan reda
bayangan tentangmu entah tiba-tiba mewujud pada kamus besar, melengkung biru yang jatuh di kamarku, dan aku merasa entah kenapa suaramu tibatiba begitu menggema dalam paru-paruku
begitulah, aku ingin mengingatmu terakhir kali.

Sebelum malam habis menuju lembah jauh
ketika nafsin terlepas dan daiqatul hempas Tuhan, hamba yang sahaja itu terima disisi-Mu. Amin

Bantul, 19 April 2013

Sumber: Buku La Tahzan

0 Response to "Kumpulam Puisi Islami, Bersama ribuan gemuruh cinta yang kau tebarkan dibalik rentetan tempias hujan."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel